Alasan Tersembunyi: Ketika Remaja Memberikan Ekspresi Marah Tanpa Penjelasan

TeenAnger

Michael (15 tahun) minta izin untuk menyaksikan pertandingan sepakbola antar sekolah di hari Sabtu. Ayahnya yang sudah mempunyai rencana, merasa keberatan. Tanpa banyak bicara, Michael masuk ke dalam kamarnya dengan kesal dan dengan wajah masam dia membenamkan diri di balik laptop. Sang ayah menjadi naik pitam karena anak remajanya ini meninggalkannya begitu saja dengan bahasa tubuh yang “tidak sopan” menurut dia.

 

Jika anda seorang remaja, pernahkah anda mengalami hal serupa? Ketika permintaan kalian tidak dipenuhi dan kalian merasa sulit untuk menceritakan “alasan yang sesungguhnya.”

Jika anda adalah orangtua, pernahkan anda mengalami hal serupa? Ketika anda mendapatkan reaksi bahasa tubuh anak tanpa alasan dan memicu emosi anda?

Bukankah ini yang sering terjadi beberapa kali dan akhirnya menumpuk dan menimbulkan jarak yang cukup lebar antara anak dan orangtua?

Yunus juga mengalami hal yang serupa. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk pergi memberitakan firman ke Niniwe, Yunus tidak memberikan argument kepada Tuhan, hanya sedikit alasan kemudian dia mengambil tindakan untuk pergi ke arah yang berlawanan. Sikap pemberontakan Yunus kadang menjadi gambaran sikap pemberontakan manusia terhadap Tuhan. Seperti juga anak-anak remaja, Yunus juga mempunyai alasan tersembunyi yang tidak dia sampaikan. Hanya dengan sikap dan tindakan kita tahu bahwa Yunus tidak senang dengan keputusan Tuhan. Bukankah hal itu yang terjadi di antara anak-anak remaja dan orangtua?

Namun, Tuhan yang Mahakuasa itu mengkondisikan Yunus sedemikian rupa sehingga pada akhirnya ia menyatakan alasan sesungguhnya mengapa ia menolak mentaati perintah Tuhan. Yunus bukan merasa takut, atau sekedar benci kepada orang Niniwe. Yunus sebenarnya mengalami dilemma yang besar karena selain dorongan manusiawi Yunus terhadap kejahatan orang Niniwe, Yunus mengenal bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Yunus tahu betul bahwa akhir dari pemberitaan Firman yang Ia lakukan akan berakhir dengan bebasnya orang Niniwe dari hukuman Tuhan dan dia sangat tidak mau hal itu terjadi.[1] Tiga kali Tuhan melakukan shock therapy: tenggelam di tengah lautan dan badai yang besar; terkurung dalam perut ikan yang bau, gelap dan tanpa harapan; dan kepanasan luar biasa setelah memberitakan Firman.Penulis tidak menjelaskan apakah setelah tiga macam therapy itu, kemudian Yunus bertobat. Namun, melalui proses ini kita mengenal sifat Allah yang teguh dan sabar, dalam berkomunikasi dengan manusia yang mempunyai persepsi dan perasaan yang berbeda.

Ketika anak-anak mulai memasuki usia remaja, orangtua seringkali merasa bahwa mereka mempunyai persepsi, perasaan, dan bahasa yang sulit untuk dimengerti. Anak yang dulu menjadi bagian diri dari orangtua, tiba-tiba berubah menjadi makhluk asing yang sulit dipahami dan dimengerti. Reaksi emosional yang tiba-tiba meluap seringkali memperburuk relasi. Dapatkah orangtua belajar dari sifat Allah? Menjadi orangtua yang teguh dan sabar?

Menghadapi Michael yang tiba-tiba menutup diri, ayahnya tidak cepat menyerah. Dia menghampiri Michael dan dengan tenang meminta Michael menjelaskan “alasan sesungguhnya” mengapa ia merasa acara nonton sepakbola menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan melebihi acara keluarga yang biasanya ia nikmati. Ketika ayah Michael menyatakan kesediaan mengerti bahasa dan perasaan Michael, maka Michael mulai berbicara: “Selama ini saya tidak punya kesempatan mendekatkan diri dengan teman-teman di sekolah baru ini. Ini adalah kesempatan terbaik saya untuk punya waktu bersama dengan teman-teman. Di waktu yang lain, kita sudah punya banyak acara dan menjelang ujian.” Sang ayah merasa sangat terbantu dengan penjelasan ini, dan dia mulai mengerti mengapa reaksi Michael begitu emosional untuk masalah yang ia pikir biasa saja. Maka sang ayah memanggil ibu dan mereka bertiga mulai membahas masalah ini. Bukan saja untuk mencari jalan keluar bagaimana mengatur jadwal dan transportasi sehingga kegiatan dari seluruh anggota keluarga bisa berjalan dengan baik, tapi juga membahas sikap-sikap yang seharusnya terjadi di dalam keluarga sesuai dengan Firman.Sang ayah menyampaikan kepada Michael bahwa jika dia dapat terus mengembangkan komunikasi dengan memberikan penjelasan seperti itu, mereka tidak perlu mengalami perasaan yang saling menyakitkan satu sama lain. Orangtua perlu memahami dan mengasihi anak; anak harus menghormati orangtua.

Pandangan yang mengatakan: “Anak Remaja tidak bisa berkomunikasi dengan orang dewasa” adalah sebuah mitos. Anak usia 12-16 tahun mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan kelompok usia yang lebih tua.[2] Sekalipun mungkin ada sedikit perasaan tidak nyaman, namun sesungguhnya mereka punya kemampuan itu.

“Masa remaja adalah masa pemberontakan” juga sebuah mitos belaka. Sesungguhnya yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga adalah keteguhan dan kesabaran dalam berkomunikasi. Sabar dalam arti tidak mudah terbawa emosi, teguh dalam arti tidak toleransi jika menyangkut nilai kebenaran. Tidak cukup bagi orangtua hanya mendengarkan dan mengerti remaja. Orangtua juga perlu membimbing remajanya pada kebenaran Firman Tuhan (2 Tim 3:16-17). Tanpa Firman Tuhan, orangtua juga dapat tertipu oleh hati anak yang sudah rusak oleh dosa.[3]Orangtua remaja perlu mempunyai kebijakan memilah hal yang prinsip dan yang tidak prinsip. Jika orangtua terlalu keras dengan yang tidak prinsip, kadang-kadang justru yang prinsip itulah yang dikorbankan.

Jika Tuhan mau memberikan kesempatan kedua dan mengirimkan ikan besar kepada Yunus. Jika Tuhan begitu teguh dan sabar untuk mendengar dan berbicara kepada Yunus yang masih saja emosional setelah orang Niniwe bertobat, masakah kita sebagai manusia yang sama-sama berdosa, tidak mau memberikan telinga dan waktu kita untuk mendekati anak-anak remaja, mendengarkan “alasan tersembunyi” di balik sikap dan perilaku yang mungkin menjengkelkan kita? Dan sebagai remaja kita perlu berhati-hati dengan luapan emosi, karena Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan menyampaikan alasan dan mendiskusikan dengan orang-orang yang Tuhan sudah tempatkan sebagai orang yang dapat membimbing kita, yaitu orangtua.

Kita tidak perlu kehilangan keindahan relasi dalam keluarga hanya karena ditipu oleh luapan emosi yang dirusak dosa.  Komunikasikan dan diskusikan segala alasan tersembunyi di dalam kasih dan kebenaran.

(Bahan ini sudah menjadi dasar kegiatan permainan dalam KTB Interaktif Remaja dan orangtua remaja di BIK Sahabat Kristus, Kelapa Gading, Jakarta, 10 April 2015)

 

Ditulis oleh: Junianawaty Suhendra

 

DAFTAR PUSTAKA

Cantrell, Timothy. “Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology.” Journal of Youth Ministry 1 (2003): 51-64.

William, Angie, and Peter Garrett. “Teenagers’ Perceptions of Communication and “Good Communication” with Peers, Young Adults, and Older Adults.” Language Awareness 21, no. 3 (2012): 267-278.

 

[1]Ringkasan Baca Gali Alkitab Bina Iman Keluarga Sahabat Kristus kurikulum Januari-Juni 2015 bersama ibu Ina Teddy.

[2]Angie William and Peter Garrett, “Teenagers’ Perceptions of Communication and “Good Communication” with Peers, Young Adults, and Older Adults,” Language Awareness 21, no. 3 (2012).

[3]Timothy Cantrell, “Understanding and Counseling Youth: A Biblical Cardiology,” Journal of Youth Ministry 1 (2003): 56-57.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *