Half-Time (separuh usia menjelang 50-an)

(10) Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. (11) Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. (12) Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang. (13) Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya. (Imamat 25:10-13)

Kata Kunci: 50

 

Saya berusaha mencari kata kunci apa yang cocok untuk renungan hari ini. Cukup banyak pilihan sebenarnya:  bersyukur, waktu untuk Tuhan, merasa diberkati, tahun Sabat, keadilan, perayaan, kebebasan, “mudik”, dlsb. Tapi, mengingat usia saya sudah menjelang 50, maka saya memilih kata kunci : 50. Mudah-mudahan pada usia itu saya masih ingat renungan hari ini: “Bagaimana merayakan ulang tahun ke-50”

Bagi Saudara yang masih muda tentu usia 50 terasa masih lama, tapi anda juga dapat melakukan beberapa prinsip dari perayaan tahun Yobel ini:

Pulang Kampung (mudik)

Bukan secara territorial/pulang mudik ke kampung halaman. Tapi mungkin lebih ke arah memikirkan: apakah ada Saudara yang selama ini Anda sudah lama sekali tidak ketemu. Biasanya orang-orang kaya pada usia 50 tahun akan merayakannya secara besar-besaran (siapa tau gak nyampe usia 90, kan?). Namun, prinsip yang Tuhan ajarkan bukanlah “self-centered” (berorientasi pada diri sendiri), melainkan “other-centered” (berorientasi pada orang lain). Kadang dalam menjalankan kesibukan hidup, baik untuk mencari nafkah, dll… kita sibuk berjuang untuk keluarga kita sendiri, dan melupakan keluarga besar kita. Bahkan mungkin ada yang melupakan atau mengabaikan orangtua sendiri. Hmmmm, khususnya bagi teman-teman yang sedang merantau di luar negeri. Ini saat yang baik bagi kita untuk berhenti dan berpikir sejenak.

“Mbalik’ no”

Anda mungkin bingung dengan sub heading di atas. Apa sih artinya “mbalik’ no”. Maksudnya adalah “mengembalikan hak milik saudara lain.” Luar biasa prinsip ekonomi Tuhan yah. Saya bukan orang ekonomi, tidak mengerti tentang ekonomi. Namun, yang saya mengerti dari ayat ini adalah bahwa Tuhan menjaga supaya orang kaya tidak terus bertambah kaya sementara orang miskin tidak terus bertambah miskin. Salah satunya adalah pada tahun ke-50, tanah yang pernah dibeli pada tahun sebelumnya, harus dikembalikan kepada pemilik yang sebenarnya. Dengan kata lain, Tuhan ingin mengatakan bahwa tanah Kanaan, tanah perjanjian adalah MILIK Tuhan, bukan milik orang kaya. Nah, mungkin dalam rangka ulang tahun ke-50, kita perlu juga memikirkan: apakah ada milik orang lain yang saat ini ada pada kita yang terlalu berlebih, sementara the pemilik aslinya sedang membutuhkan? Atau adakah barang/properti yang ada pada kita yang kita dapatkan secara tidak halal? Tahun pembebasan bukan hanya pembebasan hak milik, tapi juga pembebasan hati. Well…. Artinya dalam hal ini tidak perlu menunggu ulang tahun ke-50 kali yah…kelamaan numpukin hak milik menjadi dosa.

Membebaskan

Zaman kita memang sudah tidak ada budak, sehingga mungkin terasa tidak begitu relevan perintah untuk membebaskan budak. Apalagi Saudara yang tinggal di Amerika, pembantu pun kita tidak punya. Namun, prinsipnya adalah apakah kita mempunyai sikap “memperbudak” orang lain, mungkin terhadap bawahan, rekan kerja, saudara yang lebih muda/tdk mampu, atau malah terhadap orangtua yang selama ini membantu kita, atau malah terhadap pasangan hidup? Give them a break, will you? Kadang kita merasa tidak mau rugi kalau pembantu/supir nganggur, bahkan tidak memberi mereka istirahat sama sekali. Tuhan mengizinkan adanya relasi tuan-hamba (Ephesus), tapi Tuhan tidak mengizinkan umat-Nya memperhamba orang lain seumur hidup. Saya senang sekali para pembantu dan supir kami bekerja di tempat kami pada masa-masa tertentu, dan ketika mereka berhenti, kami pun senang, karena mereka bisa memulai kehidupan yang baru dengan usaha dan karir lebih baik, keluarga lebih baik, dan kehidupan lebih bebas dan leluasa. Saya anggap, ketika mereka bekerja pada kami, itu adalah masa “menabung” dan masa “training.” Pada saatnya mereka berhenti bekerja, mereka tidak lagi sama seperti dulu. Mereka sudah bisa membuka usaha sendiri, mempunyai keluarga sendiri, dan menjadi masyarakat Indonesia yang lebih baik…sukur-sukur kalau mereka keluar dengan membawa Injil.

 Mempercayai diri pada Tuhan

Ketika saya membaca bagian ini saya sungguh kagum. Saya tidak yakin bahwa suami saya menyadari ayat ini ketika dia memutuskan untuk pensiun dan mengambil tahub Sabat selama 2 tahun. Namun itulah yang kami alami. Menjelang usia ke-50 tahun, suami saya berhenti bekerja, sekolah di seminari…tidak menabur, tidak menuai. Namun, seperti Firman Tuhan katakan, in every cicle of 7 years, Tuhan memimpin kami untuk memasuki fase-fase ketaatan, mulai dari keputusan menikah, sekolah di San Diego untuk M.Div, memulai Sahabat Kristus, bertahan di Indocement waktu kerusuhan Mei, memulai Eunike, memulai Eureka, dan….. sekolah di seminary. Dua tahun kami lalui tanpa penghasilan, tapi Tuhan selalu mencukupkan karena cycle terakhir yang Tuhan berkati mampu membuat kami bertahan “cukup” baik untuk kami sendiri maupun untuk Eunike (termasuk memberkati teman-teman di Eunike).

Semalam, ketika kami merenungkan bagian ini, Tadeus bercerita: “mama, kami diskusikan di sekolah bahwa persembahan harus dilakukan dengan iman, karena jika kita punya pas-pasan, kita harus percaya Tuhan mencukupkan dengan 90% yang ada pada kita.” Betul sekali, begitu juga dengan tahun Sabat  harus dilakukan dengan iman. Dan Tuhan sudah membuktikan dalam hidup kami, tanpa kami sadari ketika melaluinya.

Penulis: Junianawaty Suhendra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *