Hidup yang Tidak Seimbang

work life balance

Ada saat-saat saya alami “over-commitment” dimana saya buat appointment dan meeting yang berbenturan dengan satu acara lainnya, atau saya harus mengabaikan janji-janji kepada anak saya disebabkan ada acara lain yang saya harus hadiri.  Ada juga waktu-waktu dalam hidup dimana saya terlalu sibuk dan terburu-buru, sehingga saya harus “skip” atau melewatkan waktu keluarga, waktu istirahat, waktu teduh atau bahkan waktu ber-ibadah!

Biasanya sewaktu saya terlalu sibuk seperti itu akan berakhir dengan saya harus terbaring karena sakit kelelahan.  Atau ada juga pengalaman dimana saya sudah tidak sempat lagi memikirkan untuk satu-dua hal yang penting untuk diambil keputusan dalam hidup berkeluarga maupun dalam pekerjaan, akan tetapi oleh karena deadline dan keputusan sudah harus diambil, akhirnya  saya memutuskannya berdasarkan apa yang orang lain lakukan (“follow the crowd”) tanpa memikirkannya  dengan baik. Sounds familiar bagi anda?

Tiga hal tersebut bagi saya adalah suatu alarm atau tanda-tanda dalam hidup dimana saya sudah tidak seimbang lagi dalam menata hidup, yaitu saat dimana saya mengalami: 1) Over-commitment atau Under-commitment; 2) Terlalu sibuk dan serba terburu-buru; 3) Follow the crowd atau ikut-ikutan saja dalam membuat suatu keputusan.  Ijinkan saya share apa yang saya alami melalui artikel ini.

Komitmen adalah suatu hal yang mahal dalam kehidupan seorang professional seperti saya.  Saya akan dihargai sewaktu memegang janji dan komitmen! Tetapi seringnya sebagai seorang ayah dan seorang suami, saya lupa menerapkan hal yang sama.  Pada waktu saya masih  muda sampai dengan 35an, saya  sering gampang saja mengalahkan waktu main bersama anak atau janji dengan istri oleh karena saya buat janji pada waktu yang sama di kantor ataupun dalam pelayanan.  Alasannya  adalah sangat simple yaitu saya merasa istri dan anak-anak harus mengerti karena kalau papa tidak buat tepat janji di kantor atau dalam pelayanan, nanti saya akan tidak dipercaya lagi oleh atasan atau rekan bisnis, maupun oleh rekan sepelayanan.

Sampai pada suatu hari, mentor saya, Pdt. Paul Gunadi PhD. menegor saya dengan cara bertanya suatu pertanyaan yang saya tidak pernah lupa.  Beliau bertanya: “Christian, pada saat kamu sedang sekarat dan hampir menghembuskan nafas terakhir kali, apakah atau siapakah yang kamu paling rindukan ada di sekelilingmu untuk terakhir kalinya? Apakah itu boss-mu? Atau rekan kerja atau rekan bisnismu ataupun rekan sepelayananmu? Atau kamu mau lihat surat tanah atau bilyet depositomu terakhir kalinya?  Tidak bukan….!!  Tetapi pasti kamu mau melihat dan berbicara atau berpesan kepada anak-anakmu dan istrimu yang tercinta!”  Dia lalu menyambung dengan suatu statement yang begitu menegur saya, “kalau memang istri dan anak-anakmu  merupakan pemberian Tuhan Allah yang sangat penting dalam hidupmu, kenapa engkau sering me-nomor-dua-kan mereka selagi engkau hidup dan sehat?!”

Saya tahu itulah keseimbangan pertama dalam hidup yang saya harus saya jaga sebagai professional Kristen yaitu seimbang dalam memberikan prioritas komitmen dan janji yang sama baik untuk keluarga, pekerjaan dan juga pelayanan.

Keseimbangan kedua yang juga penting adalah untuk mempunyai pembagian waktu yang seimbang di tengah-tengah tuntutan dari berbagai aspek hidup yang makin besar.  Sebagaimana Tuhan berfirman dalam Matius 25:21 & 23 “Barangsiapa setia dalam perkara kecil akan dipercayakan tanggung jawab atas perkara yang lebih besar,” maka saya percaya setiap anak-anak Tuhan mengalami hal ini.  Saya juga mengalaminya, dimana Tuhan memberikan mulai dari bawah, saat saya bekerja di staff level di Indocement, sampai saya diberikan promosi dan tanggung jawab yang lebih besar dan lebih besar lagi dari tahun ke tahun, sampai di posisi saat ini.  Demikian pula di dalam pelayanan keluarga bersama istri tercinta, Anne dan teman-teman sepelayanan di Yayasan Eunike, kamipun mengalami dari merintis melalui bulletin keluarga EUNIKE sampai memulai dengan 5 keluarga dalam kelas bina Iman keluarga SAHABAT KRISTUS di Kelapa Gading sampai sekarang Tuhan percayakan lebih dari 150 keluarga yang bergabung di Bina Iman Keluarga tersebut.

Sebagaimana Efesus 2:10 katakan “Kita ini buatan Allah yang diciptakan dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan yang baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau kita hidup didalamnya,” saya tahu persis apa yang saya peroleh semata-mata karena saya mau belajar “percaya dan taat” akan setiap langkah yang dibukakan Tuhan untuk bisa masuk langkah demi langkah dalam PEKERJAAN BAIK-NYA yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya.  Oleh karena itu, saya tidak bisa merusaknya dengan tidak menatanya dengan baik-baik.  Saya tahu persis begitu saya jatuh oleh satu dan lain hal dalam dosa di tempat pekerjaan saya, maka saya akan merusak bagian-bagian lain dalam kehidupan pelayanan dan keluarga yang sudah Tuhan percayakan.

Ada satu saat dalam hidup saya, saat saya baru ditunjuk menjadi pimpinan No. 1 di perusahaan di medio tahun 2013, saya alami ketakutan untuk memimpin dan merasa tidak mampu atas tanggung jawab untuk perkara yang menurut saya terlalu besar.  Lalu saya terbangun di suatu subuh, dan saya langsung sujud berdoa kepada Tuhan mengatakan “Tuhan, saya tidak sanggup rasanya!”  Tetapi, lagi-lagi Tuhan begitu baik untuk saya.  Melalui waktu teduh saya pagi itu, Tuhan menjawab langsung dengan FirmanNya demikian dalam Mazmur 32:8 “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan  yang harus kautempuh; Aku hendak memberikan nasehat, mataKu tertuju kepadamu.”  Wah saya terhibur sekali untuk jawaban langsung Tuhan.  Apalagi saat saya baca ayat 10nya “Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada Tuhan, dikelilingiNya dengan kasih setia.”

Itulah yang saya rasa terpenting bagi setiap anak-anak Tuhan yang diberi tanggung jawab besar dan lebih besar lagi dari waktu ke waktu yaitu “antenna” yang terus terpasang dan tune-in dengan Tuhan melalui FirmanNya.  Saya tahu ada saat-saat tertentu dalam hidup pekerjaan telah menyita begitu banyak perhatian dan waktu saya, firmanNya melalui saat teduh ataupun mimbar gereja telah mengingatkan saya untuk menatanya lebih baik.   Saya juga alami ada saat dimana saya sebagai pemimpin dalam Pelayanan maupun dalam Bisnis telah melemah dan kehilangan arah, saya harus segera ambil waktu untuk retreat 1-2 hari atau berlibur untuk bisa mendapatkan “alignment” atau arah yang lebih baik saat saya membaca buku-buku “self development  atau leadership” maupun saat saya berdoa dan bisa mendengar suaraNya atau teguranNya.

Bill Hybels menuliskan dalam bukunya “HOLY DISCONTENT” bahwa setiap anak Tuhan itu harusnya mempunyai Popeye Movement dalam hidupnya.  Tokoh kartun terkenal, Popeye akan menjadi semangat lagi dan langsung berapi-api siap bertempur melawan siapa saja, saat dia mendengar ada rintihan dari OLIVE kekasihnya “Popeye, help me… help me.”  Sebagai pemimpin, saya harus tetap mempunyai api itu dalam memimpin dan memberikan arah baik di perusahaan maupun di pelayanan.  Dalam pelayanan, saya memperoleh Popeye movement, saat saya melihat para suami dan istri kembali menyatakan cinta kasihnya, saling berpelukan dan menatap dengan api cinta mula-mulanya dalam pelayanan Marriage Encounter; atau saat saya bisa melihat istri saya, Ev. Anne, memanggil para anak-anak untuk menerima Kristus sewaktu ada pelayanan Panggung Boneka ataupun KKR Anak; atau sewaktu hati para Ayah-ayah kembali berbalik kepada anak-anaknya dengan mau bermain bersama dan menyemangati anak-anaknya dalam kamp Father & Son.  Apakah anda juga terus bisa menemukan POPEYE MOVEMENT dalam hidup pelayanan saudara saat ini? Atau api itu telah padam dan gelap gulita sehingga pelayanan anda sudah kehilangan arah dan semangat tersebut?

Terakhir, saya mau sharingkan pentingnya untuk hidup tidak sekedar ikut arus atau follow the crowd saja.  Saya harus mengakui bahwa hidup di kota besar seperti Jakarta akan membuat suatu tekanan dan arus gelombang yang besar dari komunitas keluarga ataupun masyarakat untuk hidup menjadi “sama” dengan mereka.  Seolah-olah ada suatu indikator yang dipakai masyarakat untuk mengukur tingkat keberhasilan seseorang melalui jabatannya, mobil apa yang dikendarai, olah-raga apa yang dilakukan, liburan kemana, ataupun baju dan tas apa yang dipakai dan hal-hal materi lain yang diukurkan.  Hal tersebut telah menekan banyak pelayan Tuhan, maupun kaum awam untuk hidup mengejar ukuran-ukuran tersebut supaya tidak diremehkan oleh orang.   Akibatnya banyak yang bekerja ngoyo sampai larut malam bahkan sampai pagi dan tidak seimbang lagi.  Maka tidak ada waktu yang cukup untuk membacar meningkatkan pengetahuan atau self-development sebagai seorang leader; tidak ada waktu yang teduh lagi untuk berdoa dan membaca Alkitab;  tidak ada waktu lagi untuk menanamkan nilai-nilai penting bagi anak-anaknya;  dan tidak ada waktu “dating” lagi untuk memelihara hubungan cinta-kasih dengan pasangannya.

Saat keseimbangan ke-3 ini tidak dijaga dengan baik, maka banyak hidup dari para professional dan juga hamba Tuhan akan menjadi rusak.  Perselingkuhan terjadi …. Kekerasan dan ketidak-setiaan dalam rumah tangga… maupun anak-anak yang akhirnya merasa tidak diperlakukan fair oleh orang tua Kristen-nya, sehingga mereka akhirnya dengan gampang mengambil keputusan untuk meninggalkan Tuhan saat mereka memasuki umur dewasa atau saat mereka masuk ke Universitas.

Saya mengakui bahwa sayapun bukannya selalu sukses melawan arus yang kuat tersebut.   Saya harus berjuang keras menata  kesimbangan hidup yang Tuhan percayakan agar saya tidak larut dengan dunia materialistis ini.  Saya tahu akibatnya ada waktu-waktu saya harus mengatakan “Tidak atau maaf, saya tidak bisa melakukannya.”   Salah satunya saya memutuskan untuk tidak main golf, karena saya tahu apabila saya lakukan akan banyak menyita week-end saya yang saya pakai untuk melayani dan untuk bermain basket atau berenang dengan keluarga.  Saya juga coba membatasi kesempatan melayani sesi-sesi tentang Parenting ataupun Keluarga di gereja-gereja dengan menerima pelayanan 2x sebulan saja.  Saya juga meminta istri dan anak-anak mempunyai waktu keluarga bersama yang dikosongkan agar kita bisa punya waktu bertumbuh dan sharing bersama.  Sulit memang…. Tetapi harus dikerjakan!

Itulah hidup kita yang harus diperjuangkan untuk bisa menjaga keseimbangan dalam hidup yang dipercayakan dan dalam tugas yang dibebankan  oleh Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhanlah yang merancang dan mempersiapkannya untuk saya dan anda jalani.  Bersyukurlah ada mata Tuhan yang selalu tertuju kepada anda dan saya sehingga tetap ada arah, teguran, semangat dan penghiburan dari Tuhan Allah kita!

Selamat berjuang.

Oleh: Christian Kartawijaya

2 thoughts on “Hidup yang Tidak Seimbang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *