Mahkota Seorang Istri adalah…. KETUNDUKAN

Bagi saya yang tidak suka berdandan, kecantikan bukanlah kebanggan saya. Percaya atau tidak bahkan saya pernah botak saat duduk di bangku SMA! Kebanggaan (mahkota) saya adalah pribadi dan kemampuan saya! Tetapi kemudian dalam perjalanan hidup saya, Tuhan berbicara dan mengajarkan saya apa yang seharusnya menjadi kebanggaan khususnya saat saya sudah menjadi seorang istri.

Efesus 5:22-24

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

Ayat ini tentu bukanlah ayat yang asing bagi kita. Seringkali saat kita menghadiri pemberkatan pernikahan, kita akan menemukan khotbah pernikahan diambil dari ayat tersebut, bahkan mungkin pernikahan kita sendiri diisi dengan wejangan tersebut.

Kata tunduk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti (1) menghadapkan wajah ke bawah, condong ke depan dan ke bawah (tentang kepala); melengkung ke bawah (tentang malai padi); 2 takluk; menyerah kalah; 3 patuh; menurut (tentang perintah, aturan, dan sebagainya). Sedangkan kata ketundukan berarti perihal (keadaan) tunduk; ketaatan; kepatuhan.

Sebagai orang Kristen tentu ayat ini juga bukan ayat yang baru bagi saya. Sejak awal pacaran, saya menyadari bahwa hal ketundukan akan menjadi isu bagi hubungan kami. Saya dan (suami) saat ini memiliki karakter yang bertolak belakang. Saya adalah tipe orang ekstrovert, senang bergaul, senang terjun dalam organisasi, banyak dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin bahkan sejak SMA! Saya memiliki ide-ide, inisiatif, spontan dan blak-blak an saat berbicara dan kurang peka ;p . Nah, bisa Anda bayangkan bagaimana tipe suami saya kan? Haha.. walau saya memiliki karakter yang demikian, saya bersyukur bahwa suami saya bukanlah orang yang “lemah” dan “mudah ditekan” haha.. kebayang dong apa jadinya kalau suami saya gak bisa “menguasai” saya.

Kesadaran merupakan anugerah. Dan perjuangan adalah lebih lebih pertolongan Tuhan. kalau ga ada 2 modal ini: kesadaran dan perjuangan, tentu ga akan ada niat untuk berubah dan doa tidak akan mengubah apapun.

Beberapa contoh sederhana dalam relasi kami mengenai ketundukan adalah jalan di mall. Gimana setiap kali saya yang dengan inisiatif dan bergerak cepat memimpin ke segala arah! Bagaimana saya mengambil keputusan-keputusan seperti saat saya masih single (lajang) dengan tidak berdiskusi dengan suami baik pada saat pacaran maupun setelah menikah! Bagaimana ketika saya bermaksud menjelaskan sebuah situasi kemudian dianggap “membantah” dan “ngejawab” yang akhirnya berujung “ya diem aja deh daripada ribut”.

Pada mulanya saya tidak sadar dan seringkali merasa “duh masa sih gini aja jadi masalah”. Bersyukur punya suami yang sabar dan mau berulang-ulang kali menjelaskan dan menjelaskan, ya walaupun terkadang berakhir dengan ketegangan otot, urat, dan hati. Terkadang saya sampai berpikir mungkin suami saya pilih salah orang, lebih baik dulu dia memilih wanita yang tidak dominan, yang enggeh enggeh (iya-iya) aja dan yang kalem. Saya seringkali merasa “terkurung” dengan apa yang dulu saya pernah miliki, saya merasa harus “menyerah kalah” seperti arti kata tunduk dalam KBBI dan saya tidak rela apalagi kalau saya merasa benar. Di sinilah ego dan kesombongan bermain. Belum lagi ketika saya sebagai istri kemudian menuntut suami untuk “mengasihi” , “mengerti”, dan “menerima” saya.

Lebih parahnya, ternyata masalah ini juga berdampak kepada suami saya dimana ia kemudian merasa “tidak dihargai” sebagai seorang kepala keluarga. Padahal kepercayaan diri seorang laki-laki terletak dari penghargaan terhadap dirinya. Saya bukannya menjadi penolong tetapi melemahkan suami saya.

Lima tahun sudah pernikahan kami, mungkin di tahun kelima inilah baru akhirnya saya benar-benar menyadari apa itu ketundukan dan bagaimana ketundukan itu seharusnya. Dengan sejumlah konflik, air mata, dan pergumulan doa, Tuhan perlahan menyadarkan saya dan mengajarkan saya apa itu tunduk.

  • Tunduk yang berarti percaya penuh bahwa suami saya tidak pernah ada maksud jahat sama sekali untuk mencelakakan saya atau menjatuhkan keluarga kami.
  • Tunduk yang berarti saya menyerah bahwa saya adalah penolong, bukan kepala keluarga! Saya seharusnya menolong kepala keluarga untuk mengambil keputusan bukan sebagai pembuat keputusan!
  • Tunduk yang berarti patuh kepada apa yang ia minta. Tentu suami saya bukan ditaktor tetapi ia seorang yang lemah lembut dengan segala masukan dan saran. Hanya saja saya perlu memperbaiki cara berbicara agar tidak bossy melainkan lebih lembut.
  • Tunduk yang berarti mau mendengar dan bukannya dengan emosi menjawab dan membela diri.
  • Tunduk yang berarti menyerahkan ego sendiri dan belajar untuk lebih lembut dalam menerima caranya memimpin.

Apakah pergumulan saya sudah selesai sampai di sini? Tentu belum! Ini adalah awalnya dan saya masih harus menjalani perjalanan panjang belajar tentang ketundukan. Tunduk kepada suami sebagai kepala, tunduk kepada otoritas dunia, dan tunduk kepada Tuhan.

Sharing by: Manti Rivai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *