Eunike Counseling Center sudah ada sejak 2001. Pada umumnya, orang mengenal Eunike Counseling Center sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah yang sudah timbul. Bahkan, biasanya masalah dibawa pada titik sedemikian parah sehingga membutuhkan waktu panjang untuk diperbaiki, atau bahkan setelah patah arang. ECC memang menyediakan beberapa konselor untuk kebutuhan itu. Meskipun demikian, kami bercita-cita lebih dari perbaikan / pemulihan luka. Para konselor di ECC terpanggil untuk berjuang mencegah timbulnya luka dan kepahitan keluarga.

Kami berharap setiap orang yang membangun keluarga dapat merasakan indahnya keluarga yang Tuhan hadiahkan kepadanya. Setiap anggota keluarga bisa menerima panggilan yang telah Tuhan sediakan secara khusus baginya, sebagai bagian di dalam keluarga besar Allah. Bukan berarti keluarga yang terbentuk bebas krisis dan konflik, tidak mengalami duka dan air mata, frustasi dan tertekan, kemarahan dan putus asa. Bukan berarti keluarga yang bertumbuh seolah semata-mata hidup seperti dalam gambaran sorga di dunia ini. Bagi kami, Tuhan memberikan kami tugas untuk bertumbuh bersama ke arah keluarga yang kuat dan sehat.

Seperti yang kita ketahui, secara alamiah setiap pertumbuhan diawali dengan ketidak-imbangan dan perasaan terluka. Bersamaan dengan munculnya gangguan semacam ini, maka timbul pula kebutuhan untuk membereskan gangguan. Selanjutnya, terbitlah tuntutan untuk mengubah dan diubah. Bersamaan dengan itu, konflik tidaklah bisa dihindari.

Sekali lagi, perubahan menuntut pengorbanan. Pengorbanan biasanya membawa derita dan luka hati. Namun, jika derita dan luka hati muncul dalam porsi yang sepantasnya, luka itu akan pulih, dan sembuh. Justru hal itu akan mengakibatkan kematangan jiwa, pengertian yang lebih mendalam tentang hubungan dan kehidupan. Hubungan suami dan istri menjadi lebih kuat, intim dan manis. Hubungan orangtua dan anak menjadi lebih santai dan saling mengerti.

Sebaliknya, jika konflik dan luka yang timbul menjadi begitu besar, menyakitkan, dan mencakup porsi yang berlebihan, luka-luka tidak mendapatkan kesempatan untuk sembuh. Sebagai akibat, orang tersebut akan mengalami kesulitan menerima kebutuhan berubah. Dalam keadaan seperti itu, seseorang lebih tertuju pada kesakitan dan luka-lukanya, daripada pertumbuhan di masa mendatang. Pengalaman semacam ini tidak jarang mengarah kepada pembentukan pribadi yang lebih kaku, penuh dendam, kemarahan, serta kepahitan.

ECC berharap keluarga terbentuk dengan pengetahuan dan penggalian yang cukup. Kami yakin bekal tersebut akan menolong setiap orang yang mengatakan siap menikah untuk secara serius menimbang dan memahami dinamika dirinya, pasangannya dan hubungan pribadi keduanya. Melalui perenungan pribadi dan doa, bersama-sama dengan pasangan menyimak kata hati dan intuisi, masing-masing pihak akan mampu mengambil keputusan menikah secara bertanggung jawab.

Di samping itu, kebanyakan masalah hubungan antar suami istri yang rumit adalah karena awal yang keliru. Artinya, banyak pernikahan dibangun tanpa pertimbangan yang matang dan sehat. Hampir semua orang muda memasuki pernikahan atas nama cinta, namun sesungguhnya di balik cinta ada alasan atau agenda tersermbunyi yang menjadi penyebab utama pernikahannya. Misalnya, seorang pemudi mencintai calon suaminya hanya karena pria ini bisa menjamin masa depan finansialnya, atau menjadi tempat pelarian dari kehidupan keluarganya yang berantakan. Contoh lain, seorang pria mencintai kekasihnya, semata-mata karena dia mau memamerkan kecantikan pasangannya, mau mengambil keuntungan dari menikahi anak tunggal hartawan, atau menyalurkan kebutuhan hasrat biologis secara sah.

ECC berkeyakinan bahwa awal yang benar memberikan modal yang sangat besar bagi sepasangan pemuda-pemudi yang ingin memasuki dunia pernikahan sehat, kuat dan bertumbuh. Bahkan melalui krisis dan masalah-masalah yang timbul, kepribadian dan hubungan pribadi mereka akan semakin matang. Kondisi yang sulit akan memaksa mereka berjuang bersama, saling mendukung dan menggunakan sumber daya yang ada pada mereka, untuk dapat mengatasi kehidupan yang sulit tersebut secara bersama-sama. Dengan kata lain, awal yang benar dapat membuat kesulitan hidup bukannya sebagai penghancur, tetapi justru penguat, perekat, dan penyatu hubungan dalam mengemudikan perahu kehidupan.

ECC sangat mengharapkan keluarga-keluarga berkembang dan bertumbuh bukan sekedar untuk bertahan di posisi zona nyaman, melainkan termotivasi untuk bertumbuh dalam membangun pola-pola dan kebiasaan yang baik dalam membina hubungan antar manusia. Pada akhirnya, pola-pola penyelesaian masalah itu bisa diteladani oleh anak-anak pada generasi mendatang.